Sajak Pekat Malam

Sajak ini aku tulis di suatu malam yang kelam.

Cahaya langit makin suram, lampu-lampu telah padam.

Mulut bisu terdiam dan mata belum terpejam.

Tidak ada bunyi jangkrik atau nyanyian belalang.

Malam ini bungkam !

Mengisyaratkan dunia terlalu bising.

Apakah isinya makhluk asing yang lahir sia-sia ?

Dengan aksara dan suara yang bergeming.

Lantas siapa yang bicara ? Siapa yang ingin kita dengar ?

Kritik tanpa praktik. Bermain cantik bak penari panggung akrobatik.

Hawa sedang tidak dingin.

Tapi, embun di ujung kelopak mata begitu gelisah.

Resah akan jatuh atau lelah karna menyerah ?

Bincang-bincang tentang rezim yang tak lazim.

Pelan-pelan menghangatkan basa-basi usia belia.

Manusia insomnia itu pura-pura kelihatan bahagia. Padahal banyak menyimpan rahasia. 

Adakah cerita dongeng dalam kepalanya ? 

Atau elegi religi yang akan dinyanyikan ketika mati ?

Bisa saja sengaja memendam suara dendam pada masa silam.

Hidup ini banyak bohongnya ! 

Banyak omong kosong dengan umpatan yang sombong !

Diberi panggung untuk yang berkantong padahal nyali ciut seperti bencong.

Pukul dua belas, remang-remang malam yang panjang.

Suara anjing masih menggonggong.

Apakah sunyi sedang menebak sepi ?

Detik berikutnya siapa yang menjawab ?

Siapa pula yang akan tanggung jawab ?

Sementara tuan sudah lepas tangan !

Dunia ini terlalu genting !

Sebagai hamba uang yang paling penting, apakah ini beban atau kewajiban ?

Masuk surga lalu kembali ke neraka.




Sajak ini yang menghantarkan saya menjadi juara 1 sajak terbaik "Malam Sajak 2020" yang diselenggarakan PERS BIRAMA UNIKOM BANDUNG.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penciptaan Perempuan